Berikut Mengapa Manchester United Bisa Kalah

Berikut Mengapa Manchester United Bisa Kalah

Ligabolaspanyol.com – Banyak orang yang bertanya-tanya mengapa Manchester United bisa kalah dalam pertandingan ini. Kali ini Ligabolaspanyol.com akan membahas ulasan lengkapnya mengapa Manchester United bisa kalah dalam pertandingan kemarin.

Manchester United telah mengalami penurunan kinerja yang signifikan sejak pejabat klub menunjuk Ole Gunnar Solskjaer sebagai manajer secara permanen. Sejak itu, United hanya mampu memenangkan dua kemenangan dalam enam pertandingan yang mereka mainkan, sementara sisanya berakhir dengan kekalahan. Dunia merasakan sebaliknya bagi manajer Norwegia.

Dua kemenangan tersebut juga tidak diraih oleh Setan Merah secara meyakinkan, keduanya dengan skor 2-1 atas Watford dan West Ham United di Old Trafford. Mereka juga telah tersingkir dari kompetisi Liga Champions setelah dikalahkan dalam babak perempat final oleh Barcelona.

Berikut adalah alasan yang menyebabkan Manchester United mengalami penurunan performa yang signifikan sebulan belakangan, seperti diulas 90min.

Pertahanan Buruk
David de Gea memang dapat dianggap sebagai salah satu penjaga gawang terbaik di dunia berkat konsistensi yang ditunjukkannya dalam beberapa tahun terakhir, tetapi hal itu sekaligus memperlihatkan buruknya kualitas dari lini pertahanan Manchester United. Sebagai tim yang selalu memperoleh pendapatan dan keuntungan yang besar dari berbagai sektor, melihat pemain-pemain seperti Chris Smalling dan Phil Jones masih mengisi lini pertahanan tim sekelas Manchester United adalah sesuatu yang membingungkan.

Stok Gelandang Jangkar Berkelas Minim
Pemain yang diturunkan sebagai gelandang bertahan dalam sebuah tim tidak hanya memiliki tugas untuk menjadi penghubung antara lini belakang dan depan, tetapi juga untuk membantu para pemain di lini belakang menghadapi gempuran serangan dari lawan yang mereka hadapi. Saat ini Manchester United tidak memiliki pemain berkualitas tinggi untuk mengisi posisi tersebut. Nemanja Matic sudah tidak dapat bersaing dengan lawan-lawan yang memiliki kecepatan tinggi, Fred dan Scott McTominay masih harus beradaptasi, sementara Ander Herrera nampak akan meninggalkan Old Trafford pada akhir musim.

Baca juga : 3 Pemain Bergaji Besar yang Harus Dilego Cepat Barcelona

Terlalu Bergantung pada Marcus Rashford dan Anthony Martial
Memiliki pemain-pemain di lini depan yang dapat mengacaukan pertahanan lawan mereka dengan pergerakan berkecepatan tinggi merupakan aset yang berharga bagi tim manapun, tak terkecuali bagi United yang memiliki Marcus Rashford dan Anthony Martial. Tetapi kedua pemain tersebut juga memiliki batasan yang perlu ditutupi oleh rekan-rekan mereka, dan ketergantungan yang dirasakan oleh Setan Merah terhadap Rashford dan Martial saat ini justru menghambat mereka untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka.

Taktik Solskjaer Monoton
Penerapan taktik yang tepat adalah sebagian kunci untuk menentukan peluang bagi sebuah tim untuk meraih kemenangan dalam pertandingan yang mereka jalani. Persiapan jelang pertandingan dan reaksi saat laga itu berlangsung, menjadi dua aspek yang harus diperhatikan oleh setiap pelatih. Sejauh ini Ole Gunnar Solskjaer belum mampu menunjukkan penerapan yang maksimal dari dua aspek tersebut, dan masih perlu waktu untuk mengembangkan kemampuannya sebagai seorang pelatih.

Kontrak Permanen yang Terlalu Buru-buru
Sejak menggantikan posisi Jose Mourinho dengan kapasitas interim pada Desember 2018, Ole Gunnar Solskjaer menjalani 19 pertandingan di seluruh kompetisi dan mampu meraih 14 kemenangan, dua hasil imbang, dan tiga kekalahan. Hal itu membuat manajemen Manchester United memberikannya kontrak permanen dengan durasi tiga tahun, keputusan yang diambil berdasarkan suasana di dalam klub saat itu dan reaksi dari para pendukung. Tetapi saat ini keputusan tersebut terlihat diambil terlalu cepat. Ekspektasi yang tinggi yang tidak sesuai dengan kualitas skuat menyebabkan adanya penurunan performa yang langsung membuat kualitas Solskjaer diragukan.

Persaingan Ketat Eibar La Liga

Persaingan Ketat Eibar La Liga

ligabolaspanyol.com – Eibar adalah klub bungsu di Liga Spanyol, bahkan dari seluruh klub yang ada di liga utama sepak bola. Meskipun begitu sejak menembus persaingan ketat Eibar La Liga musim 2014/2015, Eibar mampu mempertahankan statusnya sebagai klup top tier Spanyol.

Eibar adalah klub yang memiliki anggaran €40 juta per musim. Artinya setiap sen yang dikeluarkan untuk mendatangkan pemain sangat berharga dan harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab.

Tidak ada pemilik tunggal klub ini, melainkan 11.160 pemegang saham. Tidak boleh ada pihak yang memegang lebih dari 5 persen jumlah saham. Segala bentuk operasional klub sudah direncanakan, mulai dari pertandingan pramusim hingga investasi kota olahraga di masa datang.

“Rumah kecil ini benar-benar nyaman,” sambung Garagarza, “ada harmoni yang sangat spesial di antara orang-orangnya. Anda tidak mau mengecewakan masyarakat. Bayangkan kalau Eibar terdegradasi dan meninggalkan defisit sebesar €50 juta kepada mereka.”

Baca Juga :

“Kami tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Mungkin itu yang menjadi awal rahasia kerja keras kami.”

Garagarza menambahkan, dia akan merasa berdosa jika mengeluarkan €5 juta untuk sebuah transfer yang gagal. Sekali pun memiliki dana sebesar €100 juta, sang direktur olahraga enggan menghabiskannya untuk berbelanja pemain bintang. Dia lebih suka memanfaatkannya untuk memperkuat proyek klub.

“Hal pertama yang saya lakukan adalah menambah anggaran operasional [€41,26 juta]. Kemudian saya ingin membangun aspek sepakbola klub, seperti fasilitas pemain muda berupa fasilitas psikologi, medis, hingga gizi,” jawabnya.

“Saya pikir saya akan memanfaatkan dana itu untuk mengembangkan proyek kami, ‘Construyendo Valores’ [Membangun Nilai].”

Proyek itu bertujuan menanamkan enam nilai klub kepada para pemain muda Eibar, yaitu disiplin, respek, komitmen, rendah hati, dan solidaritas. Setiap bulan pemain muda dinilai berdasarkan enam aspek ini. Pemain terbaik berdasarkan perhitungan pelatih akan diumumkan setiap akhir musim. Setiap pemain muda yang tidak memiliki tindak-tanduk sesuai nilai-nilai tersebut dipersilakan meninggalkan akademi klub.

Selain itu, Garagarza juga ingin memiliki fasilitas latihan canggih seperti Footbonaut yang dimiliki Borussia Dortmund.

“Baru-baru ini saya bertemu dengan direktur olahraga Dortmund. Bagi saya mereka menjadi acuan. Mereka memiliki mesin [Footbonaut] berbiaya €3 juta yang saya idamkan. Mesin itu bisa melatih kemampuan pemain karena bekerja menggunakan cahaya dan suara,” ungkapnya.

Dengan anggaran yang terbatas, Eibar juga harus berjuang lebih keras dalam menyusun skuat yang kompetitif. Salah satu caranya adalah sistem pemantauan bakat yang dijalankan oleh tujuh scout purnawaktu dan dua scout paruh waktu yang bekerja saat akhir pekan. Setiap orang bertugas di wilayah yang berbeda-beda.

Mereka dibekali perangkat penilaian yang disesuaikan kebutuhan tim. Setiap pemain harus memiliki kemampuan yang sesuai dengan gaya bermain tim yang meliputi aspek tempo tinggi, transisi, bermain di area lawan, umpan silang, tembakan, tekanan tinggi, serta aksi sekunder.

Para scout membangun sistem dengan kode bahasa yang sama. Mereka juga menetapkan pemain di posisi tertentu harus lah memiliki kemampuan yang spesifik. Misalnya, yang mereka cari di posisi bek kanan adalah pemain dengan kemampuan “vertikal”, “bertenaga”, serta “berteknik”.

Setiap aspek tersebut akan dinilai dari pemain incaran. Scout akan memberikan kode warna hitam untuk pemain yang direkomendasikan untuk dibeli. Jika si pemain mendapatkan lima warna hitam dari scout yang berbeda-beda, baru lah mereka mengusulkannya ke pelatih.

Namun, sebelum mewujudkan transfer, Eibar melakukan satu langkah penting, yaitu mengatur pertemuan pribadi dengan sang pemain dan pasangannya supaya si pasangan memahami cara klub beroperasi serta tawaran klub kepada mereka.

Agar pemain baru mudah beradaptasi, klub menggelar acara jamuan dua kali setahun yang mengajak serta pasangan pemain. Begitu juga pertemuan khusus dengan pasangan jika sang pemain mengalami cedera berjangka panjang.

Salah satu transfer sukses Garagarza adalah pemain Jepang, Takashi Inui, yang sayangnya pindah ke Real Betis usai Piala Dunia lalu dengan status bebas kontrak.

“Kami sudah mengupayakan segalanya agar Inui tetap bertahan. Kami bahkan sudah mendapatkan oke darinya dan tinggal membutuhkan tanda tangan di kontrak baru,” kisah Garagarza.

“Simone Verdi juga meninggalkan kesan. Kami menilainya sebagai pemain yang penuh bakat, dalam usia yang bagus, dan kami berupaya mempertahankannya. Kami punya opsi pembelian permanen dari AC Milan sebesar €1 juta. Tapi si pemain bilang dia tidak mau berada di bangku cadangan lagi dan Milan punya rencana lain untuknya.”

“Salah satu kisah sukses transfer adalah saat mendatangkan Florian Lejeune dari Manchester City. Kami bergerak cepat merekrutnya dan setahun berselang kami menjualnya ke Newcastle United sebesar €10 juta.”

Dengan status sebagai klub kecil yang harus memiliki kiat khusus dalam mempertahankan posisi di tengah-tengah persaingan seperti La Liga, rencana klub-klub elite Eropa membentuk Liga Super merupakan mimpi buruk bagi Eibar.

“Liga Super akan membunuh Eibar, tapi kalau saya Real Madrid, persepsi saya jelas jauh berbeda,” tukas Garagaza.

Eibar akan menghadapi Madrid pada lanjutan La Liga akhir pekan ini. Saat ini, klub berjuluk Los Armeros itu menempati peringkat ke-13 dengan 15 poin hasil 12 kali bertanding.